Puisi ini adalah puisi yang dibacakan oleh Nicholas Saputra dilagu Cahaya Bulan Ost. Soe Hok Gie (catatan seorang demonstran).
Sebuah Tanya
Akhirnya semua akan tiba pada pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.
Apakah kau masih berbicara selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku.
(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, kenbah Mandalawangi.
kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
Apakah kau masih membelaiku selembut dahulu
ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra,
lebih dekat.
(lampu-lampu berkedipan di Jakarta yang sepi
kota kita berdua, yang tau dan terlena dalam mimpinya
kau dan aku berbicara tanpa kata, tanpa suara
ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)
apakah kau masih akan berkata
kudengar derap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta
(haripun menjadi malam kulihat semuanya menjadi muram
wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
dalam bahasa yang tidak kita mengerti
seperti kabut pagi itu)
manisku, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan
dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru.
Soe Hok Gie
Selasa, 1 April 1969

& Komentar
17 September 2007 pukul 6:37 am
ada keistimewaan yg sulit dipecahkan pada katab2 yg disusun Gie..
puisi ini sngt indah,,
pnuh pemberontakan akan hati…
puisi ini brgitu istimewa,,
mski ada kata2 yg saya belum tahu artinya..
26 September 2007 pukul 1:47 am
I like it……………………………………………..
26 September 2007 pukul 1:50 am
Mas Gie….aku minta maaf ya….krn dulu aku pernah pake puisimu ini buat ngrayu cwek aku tanpa seijin Mas Gie! Yang ada di lagu Cahaya Bulan OST Gie itu lho…..! Pokoke keren abizzzz
30 September 2007 pukul 9:23 am
owwwwwwwwwwwe, keren banget, gw anak sastra aj ngerasa belom pernah ada yang bikin puisi sekeren itu………..
29 Oktober 2007 pukul 8:35 am
“ini bukan hanya sekedar puisi,tapi sebuah ungkapan hati yang harus memilih antara cinta dan kedukaan yang mendalam.4 jempol untuk soe hok gie.”
7 November 2007 pukul 2:17 am
waduuuuuh puisinya bgus banget…..
q sampe’ ngerinding ngedengernya
22 November 2007 pukul 6:46 am
someone sent me that poetry…
i was cry when read it…
but unfortunately ..it’s too late…
for our memories…who live forever
26 November 2007 pukul 11:43 pm
[...] ala sinema yang mencuat pada kaus oblong, poster, gantungan kunci, sampul depan buku, dan sajak Sebuah Tanya dengan wajah tampan si pemeran Rangga dalam “Ada Apa Dengan Cinta” itu menenggelamkan [...]
4 Januari 2008 pukul 9:46 am
hay mas gei puisi nya bagus bangent
5 Januari 2008 pukul 6:22 pm
“setelah kita membaca puisi gie….
tidak seharusnya rasa heran yang kita pertimbangkan.
namun sebuah rasa cinta,rasa iba dan kedukaan yang mendalam dari penulisnya.”
“mana puisi gie yang lain????”
14 Januari 2008 pukul 11:49 am
sampai jumpa di akhirat
“gie , sepertinya aku juga sudah bosan dengan semua ini , aku ingin beruntung seperti engkau yang bisa mati muda”
dariku
soe_hood
15 Januari 2008 pukul 7:15 am
Puisi Soe Hok-Gie yang sempat tercecer, dan baru muncul di harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973. Judulnya “Pesan” dan cukilan pentingnya berbunyi:
PESAN
Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi
Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?
Klo mo minta yg lain ada juga….
ke FS gw aja : soe@hok.jie
23 Januari 2008 pukul 2:59 pm
Penuh pencerahan bagi jiwa2 yg ranum..
salut bwt GIE..!!
tokoh idealis yg mampu menggebrak hati hampir setiap orang yg membaca tulisannya.
Puncak mahameru saksi bisu ajalnya..
BUAT YANG PUNYA E-BOOK KARYA GIE,
“ORANG-ORANG DI PERSIMPANGAN KIRI JALAN” SAMA “CATATAN SEORANG DEMONSTRAN” TLG BAGI2 Y.. KIRIM AJA KE tuwik77@yahoo.com NTAR AKU BARTER SAMA “DI BAWAH LENTERA MERAH” NYA GIE..!!
KHEY..??!
THX B4..
24 Januari 2008 pukul 8:52 am
Gie, punya arti sendiri melihat kedamaian.
Gie, punya arti sendiri menenggelamkan sunyi di bukit tuhan.
Gie, punya arti sendiri menyuruh mahasiswa agar tidak diam.
Gie, punya arti sendiri menginginkan kita tidak hanya diam
selama ini kita semakin tertindas
pemindah kekuasaan yang mengakhiri ihwal kemerdekaan
membuat negara tercinta semakin buta,
generasi muda harusnya membalikkan jaman agar
kekuasaan tak lagi serta merta membunuh harapan kita.
Gie,
telah mencoba…
sekarang siapa?
30 Januari 2008 pukul 3:08 am
entahlah,,,,tapi ak merasakan sesuatu yang berbeda dlm hati ketika membaca goresan pena itu.!!!
sebuah teriakan gie itu membwt qt mengerti ttg kenyataan pada masa ini..
30 Januari 2008 pukul 3:11 am
entahlah,,,,,ak merasakan sesuatu yang berbeda dlm hati saat membaca goresan pena dari gie tsb…
tersirat gambaran dr kenyataan hidup masa ini.!!
3 April 2008 pukul 4:36 am
Maria – Sinta
Anggun cara bicaramu
Tak meluluhkan hati yang mati
Dan nafas itu adalah hidup
Kau seret kebaya wana ungu
Semerah darah yang menetes perlahan
Dan aromanya buat terkesima
Di pangkuan ada ketenangan
Kekuatan yang tak terperi dari bumi
Memandangmu penuh ragu
Pahami lagi diri yang coba lari
Emosi yang menjejakkan cinta
Matamu isyaratkan sebuah sapta
** sebuah kekaguman atas eksistensi soe hok gie sebagai seorang manusia”
Malang, 14, Maret 2008-gabrielarya@yahoo.com
7 April 2008 pukul 10:12 am
To Gie:
Cinta dan Damai hanya ada di puncak-puncak gunung…
15 April 2008 pukul 5:20 am
pembelajaran yang baik kpan muncul film seperti ini lagi?????
7 Mei 2008 pukul 1:56 am
puisinya keren abis waktu pertama denger di mp3 temanku, gw puter2 terus abis keren abis.andai masih ada mas gie di indonesia ini aku akan ikut berjuang menghancurkan ketidak adilan.semangat kemerdekaannnnnnnnnnnnnnnnnnn!
26 Mei 2008 pukul 12:22 am
[...] ala sinema yang mencuat pada kaus oblong, poster, gantungan kunci, sampul depan buku, dan sajak Sebuah Tanya dengan wajah tampan si pemeran Rangga dalam “Ada Apa Dengan Cinta” itu menenggelamkan [...]
27 Juni 2008 pukul 5:41 pm
seandainya mahasiswa sekarang seperti sesosok soe hok gie (gua jadi pngen hidup di jamannya).. masalahnya mahasiswa sekarang lebih mementingin “style” kehidupan. di bandingkan mengembangkan pemikiran tuk kesejahtraaan masyarakat..
*lagi pura-pura jadi politikus*
(padahal gua ngerti ama politik)
hehehe
15 Juli 2008 pukul 1:22 am
dsadsads
15 Juli 2008 pukul 1:47 am
gie…
Begitu terdengar lirih namamu
seorang demonstran
yang tak mengenal rasa takut
akan pemerintahan…
berjuang…
menentang…
seperti mentari
menyinari bumi
kau tegak berdiri
melihat hutan-hutan
yang menjadi suram
itulah fanomena kehidupan
yang selalu dipertanyakan
gie…
aku tak mengenalmu
ketika kau dekatlebih dekat
aku mengenalimu…
kau begitu tegar
menghadapi kehidupan
aku salut padamu gie
mungkin engkaulah pahlawan itu
pahlawan yang meninggalkan sejuta
kenangan sesejuk embun itu…
“sNd1″–>15 july 2008
2 Agustus 2008 pukul 8:56 pm
aq suka gie dr filmny GIE..
aq suka film ny n krya2 cinta ny…….
top abiz………..
GIe
10 September 2008 pukul 11:17 am
Puisi keren banget…
12 September 2008 pukul 3:55 am
Sadis…
8 Oktober 2008 pukul 4:36 am
Aku ingin tahu rasanya hidup pada zamanmu ko2 Gie.
Aku juga ingin ikut berjuang bersamamu.
Tapi aku tak akan berhenti sampai disini saja.
Aku akan berjuang sebagai penerus bangsa yang baik.
19 Oktober 2008 pukul 2:42 pm
gie, seorang idealis yang menjunjung tinggi
kebenaran dan keadilan. patut kita
jadikan contoh sebagai generasi penerus bangsa.
“kita yang menjadi hakim atas mereka yang
dituduh koruptor koruptor tua.”
26 November 2008 pukul 8:01 am
aku suka baget ma puisinya…..
dalemmmmmmmmmm…….^^ (emang lautan)
4 Januari 2009 pukul 8:09 am
gie….
my inspiretion,
dan orang2 seperti GIE tidak pantas mati di tempat tidur…
20 Januari 2009 pukul 2:37 pm
Gie u’re my inspiration
26 Februari 2009 pukul 12:46 pm
Emang bner kata loe Gie, orang yang paling beruntung di dunia ini adl orng yg tdak prnah dilahirkan, yg ke 2 adl orng yg dilahirkan tp mati muda, dan orng yg paling celaka adl orng yg mati tua dngan sgala kemunafikannya. emng bgtulah adanya…..
13 Maret 2009 pukul 4:27 pm
gie…
kamu lebih dari seorang sastrawan…
kamu lebih dari seorang demonstran…
kamu lebih dari seorang pecinta alam ..
you’re different
31 Maret 2009 pukul 9:58 am
I Love U gie…
31 Maret 2009 pukul 9:59 am
kamu seorang teman dekat
5 April 2009 pukul 1:23 pm
jujuR..
aq bukaNlaH seoraNg yg puNya pikiRan luaS spRti GIE..
seoRang..sasTrawaN..demosTran..peciNta aLam..
tapi..caRa pemikiraNx laH yg meMbuaT aq ^jaTuh ciNta^ pada GIE,,
^maapH GIE..puisiX aq posTing d note ku..hihihi^
20 Mei 2009 pukul 7:46 am
GIE…..
KAU TAK TERGANTIKAN …
ITU SAJA
DAN ITU PASTI…
19 Agustus 2009 pukul 5:57 am
gie kau tak pernah mati…
abadi tak terganti
mengobar bara api pemuda pemuda pertiwi
perjuangan yang tak pernah berhenti
30 Agustus 2009 pukul 1:43 pm
menurut saya puisi2 Soe Hok Gie biasa2 saja, gak ada yang istimewa. bahkan penyair2 jaman sekarangpun bisa membuat puisi yang lebih bagus dari puisi Soe tersebut. yang membuat puisi2 Soe ini diminati bayak orang adalah bukan dari segi kualitas puisinya tapi lebih cenderung kearah predikat bahwa beliau adalah seorang revolusioner yang tangguh jaman orde lama dan terkenal sebagai “Bapak” mapala indonesia.
Bravo Pecinta Alam Indonesia, Salam Lestari…
6 November 2009 pukul 7:03 am
gie..
u are the best….