(Menanggapi Thayeb Loh Angen)
Tulisan ini lahir setelah membaca artikel “Sastra di Aceh Sedang Sakit” yang ditulis Thayeb Loh Angen di Harian Aceh, Minggu,25 Oktober 2009. Tulisan ini saya persembahkan bagi kaum muda yang sejatinya sakit hati karena telah gagal menulis dengan baik di media massa di Aceh. Apalagi saya yang sudah semenjak SD melumat buku-buku sastra tapi tak juga menghasilkan tulisan yang hebat seperti Marcos ataupun seromantis puisi-puisi Pablo Neruda.
Kami kaum muda, hanya tahu menulis, lalu mengirimkannya ke media agar dibaca oleh khalayak. Kami puas ketika melihat apa yang kami tulis itu dibaca oleh orang banyak. Tapi, tulisan Thayeb Loh Angen minggu lalu membuat saya – kaum muda yang sedang sakit oleh pikiran bagaimana menyusun kata-kata yang rapi – menjadi tercengang. Karena selama ini apa yang telah diterbitkan di media dan dibaca beribu pasang mata adalah sebuah kebohongan. Kebohongan yang lahir dari pikiran dan tangan kami. Miris! Baca terus →


