Maulid dilakukan untuk merajut kebersamaan dan rasa rindu kampung halaman.
PULUHAN anak muda Aceh yang saat ini sedang mengikuti program Sarjana Mengajar di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal atau (SM3T) di Kabupaten Sanggau, pedalaman Kalimantan Barat menggelar kanduri Maulid bersama. Acara itu dilaksanakan di Mess Guru SMP Negeri 1 Sekayam Balai Karangan, Kecamatan Sekayam Kabupaten Sanggau, Sabtu 16 Februari 2013.
Acara itu kemudian dairekam dalam bentuk video dan diupload ke malam Youtube. Video yang berdurasi 8 menit 24 detik berjudul Maulid Guru SM3T Aceh di Sanggau. Di awali dengan alunan suara gitar Sape Borneo, video itu memperlihatkan suasana kebersamaan para sarjana dari Aceh yang sedang melaksanakan Maulid. Mereka memasak gulai kambing, kue timphan asoe kaya, dan juga makanan khas Aceh lainnya.
Di dalam video itu juga dimasukkan suara lagu Teuingat u Gampong yang dinyanyikan almarhum Mukhlis Nyawoung ketika masih bersama band Linon.
Salah seorang peserta sarjana mengajar dari Aceh, Akmal M Roem, mengatakan acara tersebut dilakukan untuk merajut kebersamaan antar mereka yang sedang mengikuti program mengajar di pedalaman Kalimantan.
“Jarang-jarang kita berkumpul seperti ini, jarak kita berjauhan di sini. Ini juga bentuk rasa rindu kami terhadap kampung halaman,” kata Akmal kepada ATJEHPOSTcom. Alumni FKIP Unsyiah ini mengatakan, dari 102 orang sarjana Aceh yang berada di sana, 40 orang dapat berkumpul dan melaksanakan acara Maulid. Sedangkan yang lainnya, tidak bisa hadir karena terkendala jarak yang jauh di pedalaman Kalimantan dan juga transportasi yang tidak bisa dijangkau.
Berikut video yang telah diupload ke Youtube tersebut:
Ihan Nurdin | atjehpost.com

Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) merupakan program yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan melalui Dirjen Perguruan Tinggi atau DIKTI. Program ini dimaksudkan sebagai program pengabdian Sarjana Pendidikan dalam percepatan pembangunan pendidikan di daerah terdepan, terluar dan tertinggal. Masa baktinya selama satu tahun sebagai penyiapan pendidik professional yang akan berlanjut dengan Program Pendidikan Profesi Guru.
Tak hanya perguruan tinggi dari luar Aceh saja yang mengirimkan gurunya untuk ditempatkan di Aceh, tetapi ada ratusan guru dari Aceh yang juga ditempatkan ke luar Aceh yaitu ke Kalimantan, Kepulauan Riau dan Nusa Tenggara Timur. Sedikitnya ada sekitar 300 lebih guru dari Unsyiah yang ditugaskan ke tiga provinsi itu selama satu tahun ke depan.
Ditempatkan di daerah-daerah terluar, terdepan dan tertinggal memang memiliki tantangan tersendiri bagi para guru program sarjana mendidik tersebut. Seperti tantangan yang dihadapi oleh guru-guru Aceh yang ditempatkan di Provinsi Kalimantan Barat. Salah satunya adalah Akmal Muhammad Rum, guru Bahasa Indonesia dari FKIP Unsyiah yang ditempatkan di SMP N 4 Dusun Serangkang, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanngau, Provinsi Kalimantan Barat.
Kepada ATJEHPOSTcom melalui telepon selularnya siang ini, Kamis, 29 November 2012, mengatakan jika daerah tersebut masuk dalam kategori “terdepan” karena berbatasan langsung dengan Serawak, wilayah negara Malaysia. “Kalau proses adaptasi dengan masyarakatnya tidak terlalu berat, masyarakat di sini sangat menghargai para guru, mereka baik-baik,” ujar Akmal.
Namun, kendala yang sangat terasa adalah masalah jalur transportasi yang sangat buruk. Secara umum jalan-jalan di sana kata Akmal kondisinya sangat memprihatinkan. Bukan hanya jalan lintas kecamatan, bahkan jalan lintas kabupaten pun sama.
“Yang sedikit agak bagus itu jalan antar negara, antara Indonesia-Malaysia,” kata Akmal lagi. Selain jalur darat, jalur transportasi lainnya yang ditempuh adalah sarana transportasi air. Kalimantan memang terkenal sebagai pulau yang banyak memiliki sungai-sungai.
Akmal pun terpaksa naik sampan untuk menyeberangi sungai jika hendak berbelanja atau ada keperluan lain. Sungai yang mereka seberangi adalah sungai Sekayan, sungai tersebut membelah Kecamatan Entikong dan Kecamatan Sekayan. Namun jika arus sedang deras mereka tidak berani menyeberang, untuk mengansipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Di Kalimantan Barat kata Akmal, ada 102 guru sarjana mendidik yang ditempatkan di Kabupaten Sanggau. Guru-guru tersebut tersebar di 11 kecamatan di Sanggau, di antaranya di Tayan Timur, Tayan Hulu, Meliau, Jangkang, Entikong dan Merau.
“Untuk sampai ke Kecamatan Tayan Hilir dan Hulu harus naik boat, begitu juga kalau ke Meliau, harus menyeberangi sungai Kapuas dengan naik boat. Sedangkan kalau ke Merau sudah ada jalur darat Cuma kondisinya sangat jelek,” kata Akmal.
Di tempat Akmal mengajar, di SMPN 4 tersebut muridnya hanya 31 orang, terdiri dari kelas satu 12 orang, kelas dua 10 orang dan sisanya kelas tiga 9 orang. Di sekolah tersebut ada tujuh guru, 4 berstatus pegawai negeri, 3 honor, ditambah guru sarjana mendidik 2 orang. “jadi totalnya sembilan,” ujarnya.
Di sekolah itu Akmal mengajar Bahasa Indonesia, ia juga menjadi pembina Osis dan memegang pelajaran pengembangan diri pada hari Sabtu. Meski sama-sama berada di satu kabupaten katanya, akses informasi dengan teman-teman lain tak bisa dikatakan lancar, jaringan telepon selular ke sana sering terganggu. Saat dihubungi THE ATJEHPOSTcom komunikasi dengan Akmal tak begitu lancar, kadang-kadang suaranya hilang dan sama sekali tak terdengar.
Agar komunikasi selalu lancar guru-guru sarjana mendidik Aceh di Sanggau membentuk ketua kecamatan. “Dari sini kami bisa mengetahui kondisi teman-teman, jadi bisa saling tukar informasi,” katanya. Selain masalah signal telepon selular, listrik di tempat ia bertugas juga masih terbatas. Masyarakatnya masih memanfaatkan tenaga genset untuk sumber arus listrik.
Setelah mengetahui kabar ada guru sarjana mendidik dari Bandung yang mendapat musibah tenggelam di Aceh Timur, apakah Akmal dan teman-temannya takut?
“Takut sih enggak, tapi ya khawatir juga, intinya sih kita di sini saling menjaga, saya juga selalu kontak dengan teman-teman di Aceh, dengan teman-teman di sini yaitu tadi memanfaatkan ketua kecamatan yang kami bentuk,” kata Akmal yang mengetahui kabar tersebut melalu status BB seorang temannya.
Akmal dan teman-teman juga mendapatkan perlindungan ansuransi dari pihak kampus. Namun katanya, rumah sakit yang menjadi rujukan pihak ansuransi sangat jauh. Terletak di ibu kota propinsi di Pontianak.
“Jadi kalau sakit ya nggak mungkin kita berobat ke sana, kalau dari Entikong saja sekitar enam jam, tapi kalau teman-teman dari kecamatan lain bisa lebih,” katanya. Terlepas dari berbagai tantangan yang dihadapi, Akmal tetap semangat menjalankan tugasnya di sana, karena sejak awal ia memang sudah berniat untuk mengabdi.[] (ihn)

BANDA ACEH – Guru Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) asal Aceh yang bertugas di Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat melaksanakan salat ghaib untuk Winda Yulia dan Geugeut Zaludiosanusa Annafi, dua guru SM3T asal Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung yang bertugas di SMPN 2 Simpang Jernih, Aceh Timur.
“Kita salat ghaib sebagai bentuk kepedulian terhadap mereka,” ujar Akmal M Roem, yang bertugas di SMPN 4 Kecamatan Entikong, daerah terdepan yang berbatasan langsung degan Serawak, Malaysia. Namun, hingga hari ini, Jumat, 30 November 2012 salat ghaib masih dilakukan secara individual.
“Soalnya kita tinggal berjauhan. Untuk berkumpul bersama susah, namun informasi tentang kabar duka dari guru SM3T sudah kita peroleh,” kata lulusan Bahasa Indonesia FKIP Unsyiah ini.
Sedangkan salat ghaib secara bersama-sama direncanakan akan dilakukan besok Sabtu atau lusa Minggu. “Kalau bukan Sabtu, Minggu kita akan salat ghaib bersama sebagai bentuk kepedulian dan belasungkawa,” katanya. Read more…

